Blazer Pertamaku

22.49 Arif Blog 0 Comments

Kisah dimulai sejak tugas drama bahasa Indonesia. Kelompok 3, beranggotakan tujuh orang, dengan pertimbagan sangat berat dan pemikiran luar biasa, terciptalah tema tentang detektif Jepang. Pembunuhan adalah menu utama dalam drama, dan peran pengecoh adalah cuci mulut dalam menu.
Ehm, singkat cerita tema drama diambil dari film Crows Zero dan Detektif Conan. Kalian tahu? Aktor di film Crows Zero mengenakan costum serba hitam, dari blazer hitam ditambah dengan celana panjang hitam. Ya tentu saja, hal ini melatarbelakangi pembuatan BLAZER. Dengan rasa penasaran yang disebabkan ketidakpunyaan blazer, kami (Saya, Alfin, Kholis ) mempunyai ide membuat blazer dengan desain tersendiri. Kami tidak segan mengajak anggota kelompok 3, bahkan tanpa ragu pula kami ajak teman-teman kelas. Ya, namanya juga remaja, emosi masih labil, dalam jurus mengajak ada saja halangan dalam rencana pembuatan blazer.
Dengan semangat membara, walau badai menerpa dan angin menghalau, kami tetap bertekad untuk membuat blazer. Survei kami lakukan disetiap tempat disudut kota. Hari pertama, Saya dan Kholis berkeliling kota Cirebon dengan bertanya dan melakukan negoisasi, banyak hal lucu yang saya jumpa, mulai dari masuk distro yang hanya melihat dan memegang barang dagangan lalu pergi begitu saja, pergi karena harga blazer yang terlalu mahal, kata orang jawa sih ngegembel, haha. Beberapa tempat sudah dikunjungi, tersebutlah di singgah sana, terdengar kabar bahwa terdapat distro dalam jasa pembuatan blazer dengan harga miring dan waktu pembuatan lumayan cepat, langsung saja kami bergegas membuat suatu kesepakatan dengan pemilik distro Global (maaf, bukan promosi). Kami pun tarik gas dan kembali pulang sembari membuat desain blazer. Di hari berikutnya kami memutuskan pergi bertiga menuju distro Global. Ditengah perjalanan saat turun dari GS (angkot), kami hanya membayar uang tiga ribu saja, tidak sebanding dengan jarak tempuh. Kholis, Sang Pembayar Angkot, hanya diam saja ketika supir bilang uang yang kami serahkan kurang. “hoi, kurang duite!!” ujar Kholis pada Saya dan Alfin. Yaah dengan terpaksa kami bayar lagi uang ongkos. Haha tawa muncul dari mulut kami karena kejadian tersebut.
Sampailah di distro Global, kami serahkan desain dan hasil tabungan dari uang jajan sekolah untuk DP blazer. Tidak lupa kami meminta contact person dari pemilik distro untuk berjaga-jaga, siapa tahu hari ini memesan besok sudah jadi, hehe.
Hari demi hari pun kami lewati dengan ketidaksabaran dalam menunggu hari jadi blazer, wuuiiih. Hampir disetiap celah waktu kami sms dan menelpon si pemilik distro untuk menanyakan kapan blazer sudah bisa diambil. Saya pikir si pemilik pasti jenuh dengan sikap kami sebagai konsumen, namun apa daya, namanya juga anak muda. Kami mengharap barang bagus dengan waktu pembuatan yang singkat, jelas pula ditambah harga yang terjangkau. Hihi.
Beberapa hari selanjutnya, si Mamang Global memberi tahu bahwa blazer sudah jadi. Tanpa pikir panjang, secepat kilat kami menuju distro tersebut. Sesampainya di tempat, ternyata blazer pesanan belum datang dari tempat jahit, Sial! So, kami menunggu sembari sejanak duduk santai dan jajan ke warung pinggir jalan. Sekian waktu kami tunggu, akhirnya menu antar sudah datang. Set set set! dengan tergesa-gesa dan penuh rasa penasaran kami masuk ke distro, waaaaaw blazer pun masing-masing dibagikan. Kuraba dan kuperhatikan, “kok bahan dan ukuran blazernya beda jauh sama yang kemarin-kemarin dicontohin mamang distro ya? Aneh euy”. Mau bagaimana lagi, kami pun melunasi uang blazer.Tidak lupa kami pakai dan bercermin mencoba blazer baru, “waaaah CINGKRANG!!”, ujar saya dalam hati. Meski demikian, dengan penuh rasa bangga, kami kenakan blazer tersebut dalam perjalanan pulang. Jeprat-jepret kami foto-foto di tengah perjalanan, (maklum pertama kali punya blazer), haha.
Blazer sudah jadi, namun ada rasa kekecewaan mendalam bagi remaja lelaki, “tidak seperti yang diharapkan”. Tapi ya sudahlah, blazer cingkrang membuat kami sedikit ragu untuk membuat lagi. Hmm pengalaman baru, kisah baru, dan yang jelas kami tidak akan pernah bosan untuk melakukan hal-hal baru.


End
By: Arif Hidayat
16 Agustus 2011

0 comments: